Ya, kali itu aku mengadakan perjalanan di Barat pulau Jawa dab saat bulan puasa,
tepatnya H-7 sebelum lebaran ketika kantor sudah mengadakan cuti bersamanya.
Aku bersama kakakku mengadakan perjalanan mengitari Banten dengan menggunakan
motor. Ide perjalanan ini berasal dari
kakakku yang ingin dipenuhi rasa penasaran untuk mengitari Banten, dan kebetulan
di tahun 2013 itu aku berada di Jakarta, ya akhirnya aku diajak. Lagian aku
juga sudah lama ingin mengetahui suasana di propinsi paling Barat di pulau Jawa
ini dan kita tidak mengadakan mudik di tahun ini.
Hari 1.
Aku berangkat dari kostku yang berada di kawasan Tebet pukul
8 pagi untuk menuju ke kediaman kakakku di Tangerang. Kita sudah berencana
untuk berangkat dari Tangerang hari itu. Perjalanan dari Tebet ke Tangerang
lancar sekali berhubung saat itu suasana sudah liburan lebaran dan suasana kota
Jakarta sepi sekali karena ditinggal penduduknya untuk mudik. Aku naik bus TJ
menuju ke Blok M dan dari sana aku naik metromini menuju ciledug, sampe di
ciledug plaza aku melanjutkan naik angkot menuju ke kediaman kakakku yang sudah
menunggu disana.
Setelah menunggu hingga sekitar jam 11an, motor siap,
kitapun berangkat. Melewati kota Tangerang kita menuju ke kota Rangkasbitung.
Cuaca hari itu mendung kita sempat berhenti sejenak untuk berteduh karena
kehujanan. Suasana di jalan sudah dipenuhi juga oleh para pengendara motor dan
mobil yang hendak pulang ke kampung halamannya, rada macet juga ketika melewati
daerah pasar atau mall. Hemm...jadi ingat kampung halaman di Surabaya juga
nih,,pengen mudik tapi aku memang merencanakan tahun ini untuk tidak pulang kampung
dulu, jadi ditahan rasa kangennya.Kita sempat bingung
untuk mencari rute ke Rangkasbitung karena kita melewati jalan desa sehingga
tidak ada papan petunjuk yang mengarahkan ke Rangkasbitung, untunglah ada GPS
yang menuntun kita. Pukul 5 sore kita sampai juga di pusat kota Rangkasbitung.
Suasana kota Rangkasbitung kali itu sangat ramai, kita di
alun-alunnya dan berencana untuk nginap semalam di sekitar alun-alun. Kita
nginap di masjid rayanya Rangkasbitung, lah?hehe maklum memang di perjalanan kita
kali ini, kita tidak nginap di hotel atau penginapan lainnya. Kita memang
benar-benar memastikan perjalanan kita kali ini cukup menyenangkan dengan
merasakan langsung kehidupan masyarakatnya melalui tempat2 umum, dan satu hal
biar ngirittt,,huhehe. Motor kita parkir di halaman masjid dan tepat waktu
berbuka puasa kita mencoba berburu panganan khas di kota itu.
Bulan puasa,apalagi pas waktu berbuka di sore hari, saat2
seperti ini rame sekali pedagang makanan. Makanan-makanan yang jarang kita
temui di hari-hari biasa,pasti ada di bulan ini. Yang aku rasakan selama bulan
puasa di daerah Barat Jawa ini tidak berbeda dengan kebiasaan di Surabaya saat
bulan puasa.Gorengan dan minuman es (disini paling banyak penjual es cendol,es
podeng) pasti ada sebagai menu utama pembatal puasa. Aku searching di google
mencari menu masakan khas di Rangkasbitung yakni semur kerbau dan sejenis
ketan(aku lupa namanya) namun saat itu gagal, karena ternyata panganan khas ini
sulit ditemui di pedagang-pedagang pinggir jalan, mungkin adanya di
daerah-daerah rumah penduduk setempat.
Masyarakat di Banten sini sangat menyukai daging kerbau,
bila kita jalan-jalan di pasar jarang kita temui daging sapi, yang banyak
daging kerbau. Karena sudah menjadi kebiasaan mungkin sejak jaman kerajaan
Banten untuk mengkonsumsi kerbau. Aku sendiri sampai saat ini masih belum
mencicipi rasa daging kerbau seperti apa,hemm mungkin nanti ketika ke Banten
lagi bakal mencobanya. Alhasil malam itu kita cukup puas menikmati nasi goreng
cumi di warung mangkal yang ada di pinggiran alun2 Rangkasbitung.
Yang khas di kota ini saat bulan puasa yakni saat menandakan
waktu shalat, masjid raya Rangkasbitung tidak menggunakan bedug sebagaimana
lazimnya masjid2 besar di kota lain. Masjid ini menggunakan meriam! Wuidih suangar
ya pake meriam. Ya di masjid ini ada dua meriam kecil yang ditempatkan di
halaman yang mengarah ke arah luar masjid,mirip meriam bumbung, meriam yang
terbuat dari bambu muda namun disini terbuat dari besi, supaya awet kali ya.
Tidak ada amunisi didalamnya karena meriam jenis ini hanya digunakan untuk
melesakan suara yang cukup membuat jantung deg2an di dalamnya. Dulu waktu masih SD aku dan teman2ku pernah
memainkan meriam ini di pinggiran sawah yang kini sudah menjadi perumahan L. Kita istirahat malam
itu di masjid Raya Rangkas.
Di depan
masjid Agung Al-araaf Rangkasbitung
Hari 2
Subuh bangun dan hari kedua ini kami melanjutkan perjalanan
ke arah Barat dari propinsi Banten, kami melewati kota Pandeglang yang
merupakan Kabupatennya Bacusa (Badak Cula Satu) yang ada di Ujung Kulon. Hanya
sebentar kami berada di alun-alun kotanya lalu kami melanjutkan perjalanan ke
arah Labuan.
Ohya kota Labuan ini berada di pinggiran pantai Barat Banten, kalau mau ke
pantai Tanjung Lesung bisa melewati kota ini, sayangnya kami tidak menyempatkan
ke pantai ini dan hanya berfoto di depan gapuranya saja.
Perjalanan lalu kami teruskan mengarah ke arah Selatan melewati jalan nasional 3 yang merupakan proyek jalan nasional yang menelusuri selatan pulau Jawa. Jalan ini juga menghubungkan ke jalan Anyer-Panarukan yang terkenal itu. Kami melewati pembangkit listrik tenaga uap di jalan ini. Lalu terus ke selatan. Hari itu kami berencana mencoba melewati Taman Nasional Ujung Kulon, namun rupa2nya hari tidak terkejar dan malam beringsut turun.
Menjelang malam harinya kami sempat bingung mencari
masjid-masjid yang sekiranya dapat kami inapi semalam. Hingga hari menjelang
gelap kami tetap meneruskan perjalanan berharap dapat segera sampai ke dekat
Ujung kulon, namun mungkin karena kami terlalu pede, jalan yang kami lalui
terasa panjang sekali hingga hari sudah gelap dan kami ketika itu melewati
jalan yang di kanan kirinya sudah jarang sekali ada rumah2 warga. Berharap di
depan akan ada rumah2 warga dan ada masjid kami tetap terus nekat jalan, dengan
kondisi jalan yang gelap dan ada yang rusak parah aspalnya. Beruntung kami
menemui rumah-rumah warga dan warung, kami berhenti sejenak untuk makan berbuka puasa dengan
bekal ikan bakar dan nasi yang kami beli saat di Labuan tadi.
Setelah makan kami lalu melanjutkan perjalanan lagi berharap
dapat menemui masjid yang cukup besar yang bisa disinggahi, karena sepanjang
perjalanan sebelumnya kami hanya menemui surau/mushala yang pastinya akan
sangat sungkan sekali dengan warga disitu jika kami singgahi untuk menginap semalam
dan kondisi keadaan yang kami kira cukup rawan, takut ketika kami tidur motor
kami akan dirampas. Tidak lama kami menemukan perempatan jalan yang cukup
ramai, ditandai dengan adanya @lfamart, iya alfamart dan ada masjid besar yang
bisa kami singgahi barang semalam.
Penjaga masjid ini cukup baik namanya Pak Mualim, karena kami tidak boleh tidur di masjid kami diajak untuk singgah ke pondoknya yang berada di sebelah masjid . Kami disuguhi teh hangat dan sedikit cemilan lalu diajak ngobrol sebentar sebelum istirahat. Nama desa tempat kami ini singgah adalah desa Sukajadi dan perempatan yang ramai tadi adalah perempatan arah Labuan-Binangen. Besok pagi kami hendak melanjutkan perjalanan ke arah selatan Banten, yakni ke arah Malingping.
Penjaga masjid ini cukup baik namanya Pak Mualim, karena kami tidak boleh tidur di masjid kami diajak untuk singgah ke pondoknya yang berada di sebelah masjid . Kami disuguhi teh hangat dan sedikit cemilan lalu diajak ngobrol sebentar sebelum istirahat. Nama desa tempat kami ini singgah adalah desa Sukajadi dan perempatan yang ramai tadi adalah perempatan arah Labuan-Binangen. Besok pagi kami hendak melanjutkan perjalanan ke arah selatan Banten, yakni ke arah Malingping.
Hari 3
Pagi2 sekali setelah shalat subuh kami melanjutkan
perjalanan. Kali ini ke arah selatan Banten, ke arah Malingping. Kami tidak
jadi ke Ujung Kulon dan memilih untuk ke desa Baduy yang harus melewati rute
Malingping terlebih dahulu menurut petunjuk di google map. Malingping berada di
Selatan Banten, melewati banyak perkebunan kelapa sawit, kami sempat singgah
sebentar di pantainya. Pantainya cukup bagus dan sepi, entahlah mungkin kami
datang di saat masih puasa, mungkin kalau lebaran pantai ini akan ramai sekali
pengunjung.
Suku Baduy adalah suku yang memegang teguh prinsip hidup
dari nenek moyangnya untuk tidak terpengaruh oleh kehidupan di luar mereka. Mereka
menganggap kemajuan jaman dengan ditandai adanya teknologi seperti listrik yang
masuk ke desa mereka akan merusak alam yang selama ini mereka jaga. Cara hidup
orang baduy ini mirip benar dengan konsep ecology yang selama ini kita dengar
bahwa kita harus menghargai alam yang kita diami ini. Alam memberi kita manfaat
untuk hidup dan kita juga harus menghargai alam dengan menjaganya agar anak
cucu kita juga dapat menerima manfaat dari alam ini nantinya.
Jadi, dari Malingping kita masuk ke arah pegunungan Kendeng. Melewati jalur aspal yang meliuk-liuk, naikan dan turunan yang menyenangkan sambil mengendarai motor. Kita sempat kesasar untuk beberapa saat karena salah melihat peta yang ada di google map. Namun setelah bertanya sana-sini kita akhirnya menemukan jalan menuju ke arah desa Baduy karena menemukan petunjuk. Jadi saat beristirahat makan siang di suatu warung ada seorang anak baduy yang sedang bermain-main, dan pemilik warung mengatakan bahwa itu anak baduy yang tidak lain bahwa desa baduy juga tidak jauh dari warung tempat kita makan itu.
Jadi, dari Malingping kita masuk ke arah pegunungan Kendeng. Melewati jalur aspal yang meliuk-liuk, naikan dan turunan yang menyenangkan sambil mengendarai motor. Kita sempat kesasar untuk beberapa saat karena salah melihat peta yang ada di google map. Namun setelah bertanya sana-sini kita akhirnya menemukan jalan menuju ke arah desa Baduy karena menemukan petunjuk. Jadi saat beristirahat makan siang di suatu warung ada seorang anak baduy yang sedang bermain-main, dan pemilik warung mengatakan bahwa itu anak baduy yang tidak lain bahwa desa baduy juga tidak jauh dari warung tempat kita makan itu.
Akhirnya kita sampai ke desa Baduy, aku pikir desa ini masih
asli jarang terjamah gitu, tapi ternyata karena sudah sangat terkenal maka desa
ini sudah menjadi konsep wisata di Banten. Ini ditandai di pintu masuk ke desa
Baduy ada alfamart,,, yaaa alfamart lagi. Benar-benar alfamart telah menginvasi
kemana-mana ya :3. Sebenarnya males sih ngliat ada alfamart disitu karena
merusak feel dari desa Baduy itu yang ada di benakku.
pintu masuk desa baduy
pintu masuk desa baduy
Jadi di desa Baduy ini ada terbagi dua ada desa baduy dalam
dan desa baduy luar. Orang-orang di desa Baduy Luar sudah banyak yang
meninggalkan adat istiadat mereka dengan ditandai mereka menerima kehadiran
budaya dari luar, aku melihat mereka sudah ada yang memegang handphone dan cara
berpakaian merekapun sudah biasa. Sedangkan orang-orang baduy dalam adalah
orang-orang yang masih memegang teguh prinsip keyakinan hidup mereka . Kita
tidak diperkenankan untuk masuk ke Baduy dalam secara sembarangan karena ada
beberapa pantangan yang harus kita patuhi.
Aku dan kakakku hanya mendapat akses masuk sampai ke batas luar
Baduy dalam saja, batas itu ditandai dengan adanya sungai yang membelah antar
Baduy dalam dan luar. Untuk masuk ke Baduy Dalam harus melewati jembatan bambu yang melintang di atas sungai tersebut. Kita
sempat mandi di sungai tersebut namun hanya di bagian aliran air yang ke bawah
di sebelah jembatan, karena ada pantangan untuk tidak boleh mandi di bagian
yang aliran atas bagi orang di luar baduy. Sebenarnya disana kita sempat kecewa
ketika tidak diperbolehkan masuk ke Baduy Dalam oleh guide yang mengantar kita,
usus punya usut kita sebenarnya boleh masuk sampai ke Baduy Dalam asalkan kita
mengajak salah satu dari orang baduy tersebut untuk menemui kepala sukunya
sebagai pertanda minta ijin.
Hingga sore sekitar jam 3, kita bermain di dalam zona baduy luar itu dan sempat bertemu dengan salah seorang penduduk baduy dalam. Jika berada di zona luar baduy dalam kita boleh berfoto dengan orang-orang baduy dalam tersebut. Namun jangan sekali-sekali kalian mencoba berfoto ketika berada di zona baduy dalam, gosipnya tidak akan menghasilkan gambar jika kalian mencoba foto di zona baduy bagian dalam. Eh, tapi aku saat itu mencoba untuk menyebrang jembatan ke arah baduy dalam dan sempat iseng mencoba foto di dekat area jembatan itu dan hasilnya masih bisa kelihatan sih. Entahlah.
Hingga sore sekitar jam 3, kita bermain di dalam zona baduy luar itu dan sempat bertemu dengan salah seorang penduduk baduy dalam. Jika berada di zona luar baduy dalam kita boleh berfoto dengan orang-orang baduy dalam tersebut. Namun jangan sekali-sekali kalian mencoba berfoto ketika berada di zona baduy dalam, gosipnya tidak akan menghasilkan gambar jika kalian mencoba foto di zona baduy bagian dalam. Eh, tapi aku saat itu mencoba untuk menyebrang jembatan ke arah baduy dalam dan sempat iseng mencoba foto di dekat area jembatan itu dan hasilnya masih bisa kelihatan sih. Entahlah.
Salah seorang penduduka baduy dalam yang
aku foto ketika berada di luar desanya
Setelah dari Baduy kita akhirnya mengakhiri perjalanan kali
mengitari Banten dan kembali ke Jakarta
karena esoknya adalah lebaran. Ada perasaan puas dan senang rasanya
ketika melakukan perjalanan ini karena melihat sisi masyarakat yang belum
pernah aku lihat. Propinsi Banten cukup luas dan pantaslah dulu ketika Banten
masih dalam propinsi Jawa Barat disebut sebagai propinsi terluas di pulau Jawa.
Namun saat ini Banten menjadi propinsi
sendiri, dan saya harap sih dengan adanya otonomi sendiri kesejahteraan rakyat
Banten sedikit diperhatikan lah,,hehe menutup sesi tulisan saya ini dengan sok2an
politis :p
Hoyaaaa lupa men, ada satu yang aku pengen ceritakan ketika perjalanan pulang dari Baduy ke Jakarta. Di perjalanan ketika kita sedang beristirahat, kita menemukan ayam raksasa! haha lebay ya, tapi ayam yang kita lihat ini benar-benar besar. Tubuh ayam ini berukuran hampir sebesar ban motor, kata orang-orang sekitar situ kalau ayam ini memang sengaja dipelihara sampai sebesar itu, karena nantinya akan dibuat hidangan lebaran. Gila, bisa dibayangkan tuh kalau dibikin opor bakalan sebanyak apa nantinya,,ckckck.
Gede banget kan ayamnya
Oke lah segitu dulu Sayonaraaa! Sampai berjumpa lagi
Hoyaaaa lupa men, ada satu yang aku pengen ceritakan ketika perjalanan pulang dari Baduy ke Jakarta. Di perjalanan ketika kita sedang beristirahat, kita menemukan ayam raksasa! haha lebay ya, tapi ayam yang kita lihat ini benar-benar besar. Tubuh ayam ini berukuran hampir sebesar ban motor, kata orang-orang sekitar situ kalau ayam ini memang sengaja dipelihara sampai sebesar itu, karena nantinya akan dibuat hidangan lebaran. Gila, bisa dibayangkan tuh kalau dibikin opor bakalan sebanyak apa nantinya,,ckckck.
Gede banget kan ayamnya
Oke lah segitu dulu Sayonaraaa! Sampai berjumpa lagi










