Senin, 28 Desember 2015

Journey on the edge of West Java

Ya, kali itu aku mengadakan perjalanan di Barat pulau Jawa dab saat bulan puasa, tepatnya H-7 sebelum lebaran ketika kantor sudah mengadakan cuti bersamanya. Aku bersama kakakku mengadakan perjalanan mengitari Banten dengan menggunakan motor. Ide perjalanan ini berasal dari kakakku yang ingin dipenuhi rasa penasaran untuk mengitari Banten, dan kebetulan di tahun 2013 itu aku berada di Jakarta, ya akhirnya aku diajak. Lagian aku juga sudah lama ingin mengetahui suasana di propinsi paling Barat di pulau Jawa ini dan kita tidak mengadakan mudik di tahun ini.

Hari 1.
Aku berangkat dari kostku yang berada di kawasan Tebet pukul 8 pagi untuk menuju ke kediaman kakakku di Tangerang. Kita sudah berencana untuk berangkat dari Tangerang hari itu. Perjalanan dari Tebet ke Tangerang lancar sekali berhubung saat itu suasana sudah liburan lebaran dan suasana kota Jakarta sepi sekali karena ditinggal penduduknya untuk mudik. Aku naik bus TJ menuju ke Blok M dan dari sana aku naik metromini menuju ciledug, sampe di ciledug plaza aku melanjutkan naik angkot menuju ke kediaman kakakku yang sudah menunggu disana.

Setelah menunggu hingga sekitar jam 11an, motor siap, kitapun berangkat. Melewati kota Tangerang kita menuju ke kota Rangkasbitung. Cuaca hari itu mendung kita sempat berhenti sejenak untuk berteduh karena kehujanan. Suasana di jalan sudah dipenuhi juga oleh para pengendara motor dan mobil yang hendak pulang ke kampung halamannya, rada macet juga ketika melewati daerah pasar atau mall. Hemm...jadi ingat kampung halaman di Surabaya juga nih,,pengen mudik tapi aku memang merencanakan tahun ini untuk tidak pulang kampung dulu, jadi ditahan rasa kangennya.Kita sempat bingung untuk mencari rute ke Rangkasbitung karena kita melewati jalan desa sehingga tidak ada papan petunjuk yang mengarahkan ke Rangkasbitung, untunglah ada GPS yang menuntun kita. Pukul 5 sore kita sampai juga di pusat kota Rangkasbitung.

Suasana kota Rangkasbitung kali itu sangat ramai, kita di alun-alunnya dan berencana untuk nginap semalam di sekitar alun-alun. Kita nginap di masjid rayanya Rangkasbitung, lah?hehe maklum memang di perjalanan kita kali ini, kita tidak nginap di hotel atau penginapan lainnya. Kita memang benar-benar memastikan perjalanan kita kali ini cukup menyenangkan dengan merasakan langsung kehidupan masyarakatnya melalui tempat2 umum, dan satu hal biar ngirittt,,huhehe. Motor kita parkir di halaman masjid dan tepat waktu berbuka puasa kita mencoba berburu panganan khas di kota itu.

Bulan puasa,apalagi pas waktu berbuka di sore hari, saat2 seperti ini rame sekali pedagang makanan. Makanan-makanan yang jarang kita temui di hari-hari biasa,pasti ada di bulan ini. Yang aku rasakan selama bulan puasa di daerah Barat Jawa ini tidak berbeda dengan kebiasaan di Surabaya saat bulan puasa.Gorengan dan minuman es (disini paling banyak penjual es cendol,es podeng) pasti ada sebagai menu utama pembatal puasa. Aku searching di google mencari menu masakan khas di Rangkasbitung yakni semur kerbau dan sejenis ketan(aku lupa namanya) namun saat itu gagal, karena ternyata panganan khas ini sulit ditemui di pedagang-pedagang pinggir jalan, mungkin adanya di daerah-daerah rumah penduduk setempat.

Masyarakat di Banten sini sangat menyukai daging kerbau, bila kita jalan-jalan di pasar jarang kita temui daging sapi, yang banyak daging kerbau. Karena sudah menjadi kebiasaan mungkin sejak jaman kerajaan Banten untuk mengkonsumsi kerbau. Aku sendiri sampai saat ini masih belum mencicipi rasa daging kerbau seperti apa,hemm mungkin nanti ketika ke Banten lagi bakal mencobanya. Alhasil malam itu kita cukup puas menikmati nasi goreng cumi di warung mangkal yang ada di pinggiran alun2 Rangkasbitung.

Yang khas di kota ini saat bulan puasa yakni saat menandakan waktu shalat, masjid raya Rangkasbitung tidak menggunakan bedug sebagaimana lazimnya masjid2 besar di kota lain. Masjid ini menggunakan meriam! Wuidih suangar ya pake meriam. Ya di masjid ini ada dua meriam kecil yang ditempatkan di halaman yang mengarah ke arah luar masjid,mirip meriam bumbung, meriam yang terbuat dari bambu muda namun disini terbuat dari besi, supaya awet kali ya. Tidak ada amunisi didalamnya karena meriam jenis ini hanya digunakan untuk melesakan suara yang cukup membuat jantung deg2an di dalamnya.  Dulu waktu masih SD aku dan teman2ku pernah memainkan meriam ini di pinggiran sawah yang kini sudah menjadi perumahan L. Kita istirahat malam itu di masjid Raya Rangkas.
 
Di depan masjid Agung Al-araaf Rangkasbitung


Hari 2
Subuh bangun dan hari kedua ini kami melanjutkan perjalanan ke arah Barat dari propinsi Banten, kami melewati kota Pandeglang yang merupakan Kabupatennya Bacusa (Badak Cula Satu) yang ada di Ujung Kulon. Hanya sebentar kami berada di alun-alun kotanya lalu kami melanjutkan perjalanan ke arah Labuan. Ohya kota Labuan ini berada di pinggiran pantai Barat Banten, kalau mau ke pantai Tanjung Lesung bisa melewati kota ini, sayangnya kami tidak menyempatkan ke pantai ini dan hanya berfoto di depan gapuranya saja.




                                                         Gapura pantai Tanjung Lesung

Perjalanan lalu kami teruskan mengarah ke arah Selatan melewati jalan nasional 3 yang merupakan proyek jalan nasional yang menelusuri selatan pulau Jawa. Jalan ini juga menghubungkan ke jalan Anyer-Panarukan yang terkenal itu. Kami melewati pembangkit listrik tenaga uap di jalan ini. Lalu terus ke selatan. Hari itu kami berencana mencoba melewati Taman Nasional Ujung Kulon, namun rupa2nya hari tidak terkejar dan malam beringsut turun.

Menjelang malam harinya kami sempat bingung mencari masjid-masjid yang sekiranya dapat kami inapi semalam. Hingga hari menjelang gelap kami tetap meneruskan perjalanan berharap dapat segera sampai ke dekat Ujung kulon, namun mungkin karena kami terlalu pede, jalan yang kami lalui terasa panjang sekali hingga hari sudah gelap dan kami ketika itu melewati jalan yang di kanan kirinya sudah jarang sekali ada rumah2 warga. Berharap di depan akan ada rumah2 warga dan ada masjid kami tetap terus nekat jalan, dengan kondisi jalan yang gelap dan ada yang rusak parah aspalnya. Beruntung kami menemui rumah-rumah warga dan warung, kami berhenti sejenak untuk makan berbuka puasa dengan bekal ikan bakar dan nasi yang kami beli saat di Labuan tadi.

Setelah makan kami lalu melanjutkan perjalanan lagi berharap dapat menemui masjid yang cukup besar yang bisa disinggahi, karena sepanjang perjalanan sebelumnya kami hanya menemui surau/mushala yang pastinya akan sangat sungkan sekali dengan warga disitu jika kami singgahi untuk menginap semalam dan kondisi keadaan yang kami kira cukup rawan, takut ketika kami tidur motor kami akan dirampas. Tidak lama kami menemukan perempatan jalan yang cukup ramai, ditandai dengan adanya @lfamart, iya alfamart dan ada masjid besar yang bisa kami singgahi barang semalam.

Penjaga masjid ini cukup baik namanya Pak Mualim, karena kami tidak boleh tidur di masjid kami diajak untuk singgah ke pondoknya yang berada di sebelah masjid . Kami disuguhi teh hangat dan sedikit cemilan lalu diajak ngobrol sebentar sebelum istirahat. Nama desa tempat kami ini singgah adalah desa Sukajadi dan perempatan yang ramai tadi adalah perempatan arah Labuan-Binangen. Besok pagi kami hendak melanjutkan perjalanan ke arah selatan Banten, yakni ke arah Malingping.


Hari 3
Pagi2 sekali setelah shalat subuh kami melanjutkan perjalanan. Kali ini ke arah selatan Banten, ke arah Malingping. Kami tidak jadi ke Ujung Kulon dan memilih untuk ke desa Baduy yang harus melewati rute Malingping terlebih dahulu menurut petunjuk di google map. Malingping berada di Selatan Banten, melewati banyak perkebunan kelapa sawit, kami sempat singgah sebentar di pantainya. Pantainya cukup bagus dan sepi, entahlah mungkin kami datang di saat masih puasa, mungkin kalau lebaran pantai ini akan ramai sekali pengunjung.


                                                                Haloo lautan luas :D

Suku Baduy adalah suku yang memegang teguh prinsip hidup dari nenek moyangnya untuk tidak terpengaruh oleh kehidupan di luar mereka. Mereka menganggap kemajuan jaman dengan ditandai adanya teknologi seperti listrik yang masuk ke desa mereka akan merusak alam yang selama ini mereka jaga. Cara hidup orang baduy ini mirip benar dengan konsep ecology yang selama ini kita dengar bahwa kita harus menghargai alam yang kita diami ini. Alam memberi kita manfaat untuk hidup dan kita juga harus menghargai alam dengan menjaganya agar anak cucu kita juga dapat menerima manfaat dari alam ini nantinya.

Jadi, dari Malingping kita masuk ke arah pegunungan Kendeng. Melewati jalur aspal yang meliuk-liuk, naikan dan turunan yang menyenangkan sambil mengendarai motor. Kita sempat kesasar untuk beberapa saat karena salah melihat peta yang ada di google map. Namun setelah bertanya sana-sini kita akhirnya menemukan jalan menuju ke arah desa Baduy karena menemukan petunjuk. Jadi saat beristirahat makan siang di suatu warung ada seorang anak baduy yang sedang bermain-main, dan pemilik warung mengatakan bahwa itu anak baduy yang tidak lain bahwa desa baduy juga tidak jauh dari warung tempat kita makan itu.
Akhirnya kita sampai ke desa Baduy, aku pikir desa ini masih asli jarang terjamah gitu, tapi ternyata karena sudah sangat terkenal maka desa ini sudah menjadi konsep wisata di Banten. Ini ditandai di pintu masuk ke desa Baduy ada alfamart,,, yaaa alfamart lagi. Benar-benar alfamart telah menginvasi kemana-mana ya :3. Sebenarnya males sih ngliat ada alfamart disitu karena merusak feel dari desa Baduy itu yang ada di benakku.


                                                           pintu masuk desa baduy

Jadi di desa Baduy ini ada terbagi dua ada desa baduy dalam dan desa baduy luar. Orang-orang di desa Baduy Luar sudah banyak yang meninggalkan adat istiadat mereka dengan ditandai mereka menerima kehadiran budaya dari luar, aku melihat mereka sudah ada yang memegang handphone dan cara berpakaian merekapun sudah biasa. Sedangkan orang-orang baduy dalam adalah orang-orang yang masih memegang teguh prinsip keyakinan hidup mereka . Kita tidak diperkenankan untuk masuk ke Baduy dalam secara sembarangan karena ada beberapa pantangan yang harus kita patuhi.
Aku dan kakakku hanya mendapat akses masuk sampai ke batas luar Baduy dalam saja, batas itu ditandai dengan adanya sungai yang membelah antar Baduy dalam dan luar. Untuk masuk ke Baduy Dalam harus melewati jembatan bambu yang melintang di atas sungai tersebut. Kita sempat mandi di sungai tersebut namun hanya di bagian aliran air yang ke bawah di sebelah jembatan, karena ada pantangan untuk tidak boleh mandi di bagian yang aliran atas bagi orang di luar baduy. Sebenarnya disana kita sempat kecewa ketika tidak diperbolehkan masuk ke Baduy Dalam oleh guide yang mengantar kita, usus punya usut kita sebenarnya boleh masuk sampai ke Baduy Dalam asalkan kita mengajak salah satu dari orang baduy tersebut untuk menemui kepala sukunya sebagai pertanda minta ijin.

Hingga sore sekitar jam 3, kita bermain di dalam zona baduy luar itu dan sempat bertemu dengan salah seorang penduduk baduy dalam. Jika berada di zona luar baduy dalam kita boleh berfoto dengan orang-orang baduy dalam tersebut. Namun jangan sekali-sekali kalian mencoba berfoto ketika berada di zona baduy dalam, gosipnya tidak akan menghasilkan gambar jika kalian mencoba foto di zona baduy bagian dalam. Eh, tapi aku saat itu mencoba untuk menyebrang  jembatan ke arah baduy dalam dan sempat iseng mencoba foto di dekat area jembatan itu dan hasilnya masih bisa kelihatan sih. Entahlah.



            Salah seorang penduduka baduy dalam yang 
aku foto ketika berada di luar desanya



                                                           Penduduk Baduy Luar

                                         Jembatan bambu penghubung baduy dalam dan luar

                                        Semacam lumbung padi di bagian baduy dalam

Setelah dari Baduy kita akhirnya mengakhiri perjalanan kali mengitari Banten dan kembali ke Jakarta  karena esoknya adalah lebaran. Ada perasaan puas dan senang rasanya ketika melakukan perjalanan ini karena melihat sisi masyarakat yang belum pernah aku lihat. Propinsi Banten cukup luas dan pantaslah dulu ketika Banten masih dalam propinsi Jawa Barat disebut sebagai propinsi terluas di pulau Jawa.  Namun saat ini Banten menjadi propinsi sendiri, dan saya harap sih dengan adanya otonomi sendiri kesejahteraan rakyat Banten sedikit diperhatikan lah,,hehe menutup sesi tulisan saya ini dengan sok2an politis :p


Hoyaaaa lupa men, ada satu yang aku pengen ceritakan ketika perjalanan pulang dari Baduy ke Jakarta. Di perjalanan ketika kita sedang beristirahat, kita menemukan ayam raksasa! haha lebay ya, tapi ayam yang kita lihat ini benar-benar besar. Tubuh ayam ini berukuran hampir sebesar ban motor, kata orang-orang sekitar situ kalau ayam ini memang sengaja dipelihara sampai sebesar itu, karena nantinya akan dibuat hidangan lebaran. Gila, bisa dibayangkan tuh kalau dibikin opor bakalan sebanyak apa nantinya,,ckckck.

                                                             Gede banget kan ayamnya



Oke lah segitu dulu Sayonaraaa! Sampai berjumpa lagi